Translate

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutch RussianPortugueseJapaneseKoreanArabicChinese Simplified

20101214

Mengenal Terapi Lebah

Sekitar 3000 tahun yang lalu, apitherapi atau pengobatan suntik lebah telah dikenal di Timur Tengah dan di Negri China pun di temui teori " YI DU GONG DU " artinya racun melawan racun. dengan menggunakan media sengat lebah untuk mengobati penyakit. Bahkan Hippocrates disebut sebagi bapak kedokteran modern juga menggunakan sengat lebah sebagi obat.

Konprensi Terapi Akupuntur se Dunia ke II di Nanjing China pada pertengahan September 1993, Organisasi Kesehatan se Dunia WHO mengakui Apipunktur sebagai alternatif pengobatan. Kini terapi sengat lebah ( Bee Venom Therapi - BVT ) diterapkan beberapa negara antara lain China, Korea, Rumania, Bulgaria, Rusia, Inggris, Brazil dan lain-lain.

Dalam Buku Bee Venom Theraphy seperti dikutip oleh Susan Wilkinson dalam Bee Online, racun lebah mampu menyembuhkan artritis ( radang sendi) 12x perlakuan (2x perminggu) selama 6 minggu, lalu disimpulkan bahwa terapi racun lebah lebih aman, efektif sepanjang pasien tidak alergi terhadap sengat lebah.

Di Amarika serikat diperkirakan 4.000 penderita MS (multiple scerosis) diobati dengan BVT, di Brazil juga BVT digumakan untuk penyakit Asma, di China BVT dilaporkan untuk mengobati penyakit syaraf, kejang otot, tumor kulit, impotensi dan sakit saraf.

Tahun 0980, Dr. Julia Owen dari inggris membuka praktek pribadi dan berhasil mengobati pasien-pasiennya dengan bisa lebah yang diternaknya secara khusus. Dr. Julia Owen mewarisi pengetahuan dan ketrampilan tentang terapi bisa lebah dari enam generasi dokter di keluarganya yang berasal dari austria dan ia memperbaiki teknik-tekniknya seperti yang dilakukan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Dr. Julia Owen tidak menggunakan lebah kebun biasa yang sengatannya berbahaya dan menyakitkan, lebah- lebah yang diternaknya dirawat dengan higienis dan diberi makan dengan hati-hati sesuai kebutuhan pasien. Diet lebahnya bisa digunakan sebagai obat-obatan.

Lebah yang ia gunakan tidak menghasilkan madu atau koloni yang besar, dan pemilihan lebah untuk terapi harus dilakukan dengan sangat hati-hati sehingga tidak menakutkan koloni, tempat diambilnya seribu lebah. bila lebah menerima tanda bahaya, ratu lebah akan dibunuh dalam usaha melindunginya. Hilangnya ratu lebah berarti hilang satu kelompok lebah.

Ia mengobati ankilosis, osteo dan reumatoid-artritis, asma, radang pada kulit, eksim, psioriasis dan khususnya berhasil mengobati Tuli dan kebutaan karena degrenasi retina atau karena sakit panas scalet atau campak pada masa kanak-kanak. Retinitis pigmentosa, penyakit kronis keturunan yang banyak terjadi di Amarika Latin juga banyak yang bisa disembuhkan.

Diagnosis menggunakan teknik biasa seperti pemeriksaan darah dan air kemih dan jika diperlukan foto sinar X, begitu banyak permintaan pada Dr. Owen sehingga ia harus membatasi terapinya hanya pada mereka yang menderita asma, ketulian dan kebutaan. yang ia pilih karena ia dapat menyembuhkan penyakit tersebut sepenuhnya.

Racun lebah seperti yang ditulis Susan Wilkinson dalam Bee Online, berupa campuran komplek dari protein ( enzim dan peptida ) yang memiliki aktifitas farmakologikal yang unik. Enzim ( protein yang mempercepat reaksi kimia dalam tubuh ) utama dalam racun lebah adalah hyaluronidase dan fosfolifase ahyaluronidase memecah asam hyaluronic ( cairan antar sel ) sehingga racun lebih cepat menyebar diantara sel. Fosfolipase A merusak fosfolilipid ( komponen utama selaput sel dan meyebabkan kematian sel). Dua komponen tersebut menyumbang terjadinya reaksi alergi disebabkan sengatan lebah.

Pada Abad 19 seorang dokter dari Austria, Dr. Philip Tere menggunakan sengat lebah selama 40 tahun dalam menyembuhkan ratusan penderita arthitis dengan keberhasilan 80%. Ketertarikannya pada zat ini timbul ketika ia sembuh dari rematik setelah disengat lebah, meski dianggap aneh beberapa dokter lainnya akhirnya berhasil juga menggunakannya dalam menyembuhkan penderita arhtritis dengan baik.

Di Jerman, Inggris dan Rusia, racun lebah dianalisa dan didalamnya ditemukan zat mellitin dan apamin. Ditemukan juga bahwa salah satu dari enzim yang terkandung dalam racun lebah mampu meningkatkan produksi molekul rhematoid dalam cairan yang melumasi sambungan sendi.

Sengat lebah bekerja pada daerah pituari dan perut adrenal untuk meningkatkan persediaan kortison dalam tubuh yang merupakan zat anti peradangan dari tubuh sendiri.

Dengan sengat lebah, tidak hanya dapat menyembuhkan atau mengatasi beberapa kasus rematik tertentu, tetapi juga osteoarthritis dan kerusakan organ yang sangat kronis dan bahkan jaringan ankylosis, berkat kelengkapan stimulasi pada anteypophysis dan perut suprarenal. sengat lebah meningkatkan pertahanan tubuh tanpa efek samping yang membahayakan.

Dr. Gerald Wiessman, pakar arthritis yang telah mengadakan penelitian sendiri tentang sengat lebah terhadap tikus yang diinjeksi arthritis artifisial menyimpulkan bahwa sengat lebah memang merangsang produksi kortisol dalam tubuh, tapi efek yang paling tampak adalah bahwa gejala arthritis itu dihentikan bukan disembuhkan.




Popular Posts

Blog Archive

 
© Copyright 2035 INFO HERBAL
Theme by Info Herbal